| |
[
]
DEPAN
Kemenangan itu Pasti Oleh: Hasanuddin Azali
Sejak runtuhnya khilafah Islamiyah tahun 1924 M., eksistensi politik dan hukum Islam telah lenyap dari kehidupan nyata kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Bersamaan dengan itu, bergeraklah kekuatan dari dalam dan luar, berskala lokal dan internasional; bekerja siang dan malam tak kenal lelah untuk menjalankan misi iblisnya, menghancurkan ideologi Islam dan menjauhkan kaum muslimin dari ajaran sucinya. Tak bisa kita pungkiri, bahwa realitas umat Islam –pasca runtuhnya khilafah- di banyak negeri sangat memilukan; menjadi objek sasaran pengeroyokan para konspirator dari dalam dan luar. Pemerintah-pemerintah sekuler di negeri Islam tak henti-hentinya membuat persekongkolan jahat untuk memusuhi segala hal yang berbau pergerakan. Mereka bertindak represif terhadap aktifis Islam, menyiksa, menculik, bahkan menghukum mati mereka. Kekuatan sosialis, kapitalis, zionis, salibis, dan misionaris dunia berkonspirasi untuk menguasai negeri-negeri Islam. |
::
Selanjutnya
|
|
|
Partisipasi Wanita dalam Pemilu dan Lembaga Legislatif Oleh: Jamaluddin Achmad Kholiq Dalam kancah politik, Islam telah memberikan hak-hak serta memposisikan wanita secara proporsional, tidak membelenggunya untuk tidak berpartisipasi dalam dunia politik sama sekali, juga tidak melepaskannya tanpa batas. Islam memberinya hak-hak berpolitik dengan etika-etika yang selaras dengan norma-norma agama. Namun ketika membahas tentang partisipasi wanita dalam pemilu dan pencalonan sebagai anggota legislatif, kita jumpai pendapat yang bervariasi dalam belantika pemikiran Islam kontemporer. Ada yang terlalu berhati-hati, moderat, dan ada yang terlalu bebas. |
::
Selanjutnya
|
|
|
Pemimpin Puncak Oleh: Al-Ustadz Suhartono TB, Lc., Dipl. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran:159) |
::
Selanjutnya
|
|
|
Dialog Kebangsaan; Dari Kairo untuk Bangsa Sabtu, 25 Oktober 2008, Auditorium Wisma Nusantara kembali dibanjiri mahasiswa(i) Indonesia di Mesir (Masisir). Kali ini PIP PKS Mesir menggelar acara Dialog Kebangsaan dengan tema, "Dari Kairo untuk Bangsa; Refleksi 80 Tahun Sumpah Pemuda." Sebelum helat akbar itu digelar, panitia yang diketuai oleh Arif Masychun, Lc. mengadakan Lomba Menulis Essai dengan tema seputar kepemudaan, dan para finalis lomba akan diumumkan pada acara puncak. |
::
Selanjutnya
|
|
Berdakwah dan Berprestasi, Mengapa Tidak? Oleh: Abu Ubaidah, Lc. Menjadi Da'i Militan yang Berkualitas Belakangan ini penulis melihat ada gejala yang berkembang di tengah-tengah dinamika kita. Gejala itu adalah usaha dikotomi antara "berdakwah" dan "mengukir prestasi". Apapun alasannya, opini semacam ini tidak dapat dibenarkan. Karena kedua aktifitas ini ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisah. Seperti dua sayap yang membawa burung garuda terbang melambung tinggi ke udara. Apabila kita buka lembaran sejarah sejak Islam muncul menyeruak dinamika peradaban dunia, maka kita akan menemukan bahwa di setiap kurun, selalu ada tokoh terdepan yang memimpin generasinya. Mereka adalah penggores tinta emas yang menjadi energi generasi belakangan. Nama mereka harum semerbak mewarnai langkah garis perjuangan orang-orang setelah mereka. Cita-cita mereka melampaui usia dan generasi di mana mereka hidup. Karena mereka berjalan dengan mentaati rambu-rambu perjuangan. Asa mereka dibalut dengan ketinggian dan keluhuran obsesi. Target mereka jauh ke depan demi menancapkan kepemimpinan Islam di atas semua peradaban. |
::
Selanjutnya
|
|
Bincang Masisir: Geliat Kedewasaan Masisir, Dialog dengan Data Oleh: Tirto Adhi
Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) kembali menggelar acara untuk memuaskan dahaga intelektualnya. Kali ini bertema Akademik Vs Politik, yang diadakan Rumah Budaya Akar. Panitia menjelaskan bahwa tema ini diangkat karena ia merupakan peringkat pertama dari isu terhangat versi Rumah Budaya Akar. Memang cukup tepat, apalagi berbagai isu sedang menghangat di kalangan Masisir. Sebagian isu tersebut berbasis data, sebagian lagi asumsi, praduga, bahkan sentimen pribadi., "Politik menghambat studi", "Independensi PPMI", "Peran Politik Masisir", "Antara berprestasi dan aktif di Parpol, "Parpol bergerak di Masisir"dll.
Isu ini sering terdengar di perbincangan Masisir. namun seorang terpelajar tak berbicara di belakang, mengumpat, dan menggerutu namun harus berani berkata lantang, menyuarakan apa yang diyakininya. Jika politik itu kotor, katakan dengan lantang dalam sebuah forum terbuka, agar orang melihat kekokohan argumennya, pun jika menganggap politik itu boleh ada di Masisir, jangan ragu pula berterus terang, agar Masisir tahu apa rasionalisasi dari argumennya, picikkah ide itu atau logis dan berakar kuat dalam khazanah Islam? Setidaknya inilah yang didapatkan para peserta setelah menghadiri Bincang Masisir, Kamis Malam, tanggal 16 Oktober di Griya KSW. |
::
Selanjutnya
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| |
|
QS.6:70 Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama* mereka sebagai main-main dan senda gurau**, dan mereka Telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, Karena perbuatannya sendiri. tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at*** selain daripada Allah. dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. mereka Itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu. * yakni agama Islam yang disuruh mereka mematuhinya dengan sungguh-sungguh. ** arti menjadikan agama sebagai main-main dan senda gurau ialah memperolokkan agama itu mengerjakan perintah-perintah dan menjauhi laranganNya dengan dasar main-main dan tidak sungguh-sungguh. *** Syafa'at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir. |
|
|
|
|
| |
 |
|
|
| |
 |
|
|
| |
 |
| |
|
PENGUNJUNG |
| | Sehari | 68 | | | Kemarin | 79 | | | Sepekan | 444 | | | Sebulan | 444 | | | Total | 9783 | |
|
|
|
| |
| |
|
 |